Selasa, 29 April 2014

Selembar Surat dari PT Kereta Commuter

Hari ini, lagi-lagi perjalanan kereta terganggu. Setelah didemo para commuter Bekasi, pagi ini gangguan kereta meresahkan para commuter Serpong - Tanah Abang. Kereta yang seharusnya berjalan pukul 6.33 dari Pdk. Ranji tak kunjung datang padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Pengumuman adanya gangguan kereta di stasiun Sudimara (selisih 1 stasiun sebelum stasiun Pdk. Ranji) makin bikin galau.

Alternatif angkutan yang lain seperti angkot, bis atau taksi sangat tidak menjanjikan di tengah kemacetan di jam sibuk ini. Kurang lebih pukul 07.00 saya dan beberapa orang teman sesama commuter akhirnya memutuskan naik Kereta Commuter Line (CL) ke arah Serpong. Gambling saja sebenarnya. Kami berpikir peluang mendapat kejelasan perjalanan kereta di stasiun sebelum Pdk. Ranji bisa jadi lebih besar. Benar saja, sesat akan tiba di Stasiun Sudimara, masinis kereta mengumumkan bahwa kereta yang saya tumpangi akan mengakhiri perjalanan di Stasiun Sudimara dan penumpang yang ke arah Serpong diturunkan di Sudimara.

Yesss, akhirnya keputusan cerdas diambil Pengatur Perjalanan Kereta mengingat penumpukan penumpang di sejumlah stasiun. Beruntung lagi, saya sudah dalam posisi duduk manis (sesaat), hehehe (meski tetap BT karena gangguan kali ini bikin telat banget nyampai kantornya). Setibanya di stasiun Kebayoran ternyata saya melihat ada ibu-ibu yang sudah cukup berumur kesusahan berdiri di tengah-tengah padatnya manusia di Kereta saat itu. Spontan lah ya, merasa masih muda dan cukup kuat untuk berdiri, saya memberikan kursi saya buat si ibu ini. Gak kebayang, orang-orang terutama anak muda yang masih bisa-bisanya (pura-pura) tidur atau memaki lewat media sosial soal jatah duduk di transportasi umum (terutama kereta). Itu karena ga peduli, ga punya hati atau blo'on yaaaa. Entahlah.

Keterlambatan kereta kali ini tentunya berdampak pada keterlambatan ngabsen dan ancaman potongan gaji dari negara (ceileeeeh). Eh, pas di gate keluar, surprise, seorang petugas satpam membagi-bagikan selembar surat keterangan. Surat keterangan yang intinya menjelaskan kalau penumpang kereta tidak bersalah. Ini murni kesalahan PT Kereta Commuter karena adanya gangguan teknis dan berbagai jenis gangguan lainnya. Cukup mengapresiasi langkah manajemen PT Kereta Commuter ini, tapi kenapa suratnya tidak ditandatangani langsung Kepala Stasiun ya?!. Kebayang dong, kita yang sudah terlambat ini harus ngantri lagi untuk mendapatkan tanda tangan Bapak Kepala Stasiun yang terhormat #tepok jidat.

PR berburu tanda tangan Ka. Stasiun *sigh*


So, lain kali harusnya surat-surat kaya gini mbok ya langsung ada tanda tangannya gitu loh Pak. Toh bisa pake cap yang ada tanda tangannya juga kan. Jangan kita yang sudah dirugikan karena keterlambatan pelayanan Bapak masih harus ngejar-ngejar dan ngemis-ngemis lagi minta tanda tangan Bapak, piye toh. Atau malah mendorong kami untuk mengira-ngira tanda tangan Bapak, makin kacau lah negara ini.

Duh, jadi teringat komentar si Papa yang beberapa hari lalu naik Kereta Api ke Cirebon setelah beberapa bulan lalu menjajal Kereta di Benua Eropa sana. Sesaat setelah keluar dari Stasiun Gambir si Papa cuma bisa comment : kenapa ya kereta di Eropa itu goncangannya bisa ga terasa. Tanpa pikir panjang saya yang setiap hari menjajal CL langsung bilang 'Jangankan goncangan Pap, bisa tepat waktu saja sudah syukur'. Ya gak seeeeeh.....



Senin, 28 April 2014

Kabar duka (lagi)

Pagi ini saya mendapat kabar duka itu lagi. Sebelumnya, 4 hari lalu saya jalan bareng dengan teman saya yang saat itu bercerita soal mertuanya yang sedang terbaring sakit karena divonis kanker kelenjar getah bening dan diopname di RS Dharmais. Seketika, memori otak saya terbang jauh ke belakang saat mama juga berjuang dengan kankernya di RS yang sama.

Pagi ini, saya mendapat informasi jika mertua teman saya yang juga kebetulan ibu dari teman kantor saya ini meninggal dunia. Kurang dari sebulan mereka mendapati orang yang mereka sayangi gagal melawan penyakitnya. Temuan demi temuan, inovasi dan inovasi pengobatan kanker ternyata masih belum cukup melawan keganasan kanker.

Akhirnya, kita hanya bisa berserah pada Yang Kuasa sebagai Sang Penentu nasib dan takdir. Pasrah kah itu? Tentu tidak, saya sangat yakin para medis dan para survivor telah berjuang sekuat tenaga. Namun, kembali lagi, semua sudah ada jalan-Nya. Jalan yang kelak membawa kita pada kehidupan abadi yang hakiki.

Kematian sejatinya mengajarkan banyak hal bagi kita yang masih bernafas. Bagaimana kita bisa mensyukuri nikmat hidup, merasakan kehangatan cinta dan kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekat hingga akhirnya kita bisa memberi makna dalam setiap perjalanan waktu. Kematian juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia lebih baik, demi bekal di akhirat nanti.

Tak perlu mengutip ayat-ayat dan pesan ulama yang mungkin terlalu berat bagi sebagian orang. Satu hal yang perlu diingat, kematian merupakan sesuatu yang sifatnya mutlak dan pasti menimpa siapapun. Mengutip pernyataan Pak Ahok yang fenomenal dan kontroversial itu, buat apa sih kita takut mati, takut mati pun tidak membuat kita tidak mati. Jadi, ya mending tidak usah takut sekalian. Hadapi saja.

Ya Allah, semoga kami senantiasa dalam lindungan-Mu, dapat menghadap-Mu dalam keadaan Khusnul Khotimah, jauhkan kami dari siksa kubur-Mu, aminnn ya Rabb.

Minggu, 27 April 2014

Berburu Mobil Neio

Makin besar kecintaan Neio terhadap mobil semakin nyata. Setiap kali kami jalan-jalan pasti celotehannya seputar jenis-jenis mobil yang melintas.Sebagai penggemar fanatik mobil, sebenarnya sudah lama berniat membelikan Neio mobil-mobilan Ride-on. Tapi, namapun orangtua pastinya ingin memberikan yang terbaik dong buat anak-anaknya. Tak hanya mainan tapi buat banyak hal-hal penting dalam kehidupan mereka. Makanan, minuman, pakaian, pendidikan sampai nanti urusan jodoh kelak *mulai ngelantur khas mak-mak. Andai jodoh bisa dibeli pasti nanti dibeliin yang terbaik juga. Namun, karena urusan jodoh harus ada campur tangan Tuhan, jadinya orang tua hanya bisa berdo'a aga kelak anak-anak mereka bisa menemukan tambatan hati terbaik.

Balik ke urusan mobil Neio, setelah browsing hampir di semua toko mainan online, telepon, konfirmasi dan bahkan sempat mendatangi sebuah distributor di daerah Ciledug, ternyata mobil incaran yang diidam-idamkan tak kunjung dapat. Saya juga sempat menunggu selama 3 minggu dari sebuah toko mainan besar karena dijanjikan barang mereka masih tertahan di Bea Cukai. Tapi koq ya sudah menunggu 3 minggu masih belum ada kepastian juga, kecewa. Sempat mau bertransaksi lewat toko online internasional sepert amazon atau walmart, tapi ujung-ujungnya tetap ditolak. Mereka belum bisa mengirimkan barang ke Indonesia, hikkkks.

Akhirnya, setelah harapan mendapatkan mobil yang ditaksir semakin tipis, sepertinya saya harus mulai realistis. Beruntung, sabtu sore kemarin ada waktu kencan berdua si Papi darling ke Mall Ambassador-ITC Kuningan. Sebuah tempat belanja yang menyimpan sejuta kenangan. Tempat andalan dan lari (dari kenyataan) paling cihuy jaman masih lajang, hehehe. Di mall ini dulunya saya sering banget belanja bulanan, beli gadget, makan siang, shopping karena memang jaraknya sepelemparan batu dari kantor dan kos (dulu). Bahkan, jalan kaki saja paling cuma 10 menit untuk sampai di tempat ini.

Di masa sekarang, ke mall ini benar-benar sebuah perjuangan. jaraknya yang sudah tak bersahabat dari kantor apalagi dari rumah, membuat frekuensi kunjungan menurun drastis (setahun bisa diitung pakai jari). Nah, berhubung sabtu kemarin mau jemput papa ke stasiun Gambir dan paginya sudah menunaikan kewajiban jalan-jalan akhir pekan bersama anak-anak, jadi sorenya niaaaat banget mau ke Ambassador (sekalian kencan ya bow). Di salah satu toko bayi cukup fenomenal di ITC Kuningan ini kabarnya ada jenis mobil ride on yang saya incar (alternatif setelah incaran pertama gagal).

Tapi, karena jarang-jarang ke Ambassador kayanya koq sayang ga sekalian service HP juga, kebetulan ada masalah di speakernya. Eh, kenapa ga sekalian setting BB juga yang kemarin habis dikasih Uncle Endo. Sekalian-sekalian itulah akhirnya yang bikin saya terjebak dan tidak terasa waktu jemput si Papa jadi mepet. Belum lagi janji mau beliin mobil-mobilan si Neio. Ambassador oh Ambassador.

Untungnya, dengan sedikit huru hara, urusan di Ambassador ini kelar juga. Termasuk membeli mobil baru buat Neio di toko baby langganan.  Benar saja, tak butuh waktu banyak, transaksi deal. Harga jangan ditanya, toko bayi satu ini memang terkenal menjual baby stuff lebih murah dari toko baby manapun. Termasuk untuk mobil-mobilan Neio yang kemarin saya beli. Selisih dengan toko online lain bisa 150 ribu loh, belum lagi ongkos kirim...(tapi ga perlu promosi lagi nih kayanya, jadi ga usah disebutin namanya lah ya, hehehe). Namun, alasan utama menjemput Papa ke Gambir malah telat aja se jam-an, huaaaaa, mafkan kami Papa.

Tapi, senang banget liat Neio bisa menikmati mobilnya. Sayang, mobil ini agak-agak tidak interaktif karena anak tidak bisa mengemudikannya sendiri. Jadi harus ada pihak kedua yang bersedia mendorongnya. Sementara, si mobil inceran memungkinkan anak menggowesnya pakai kaki. Hiks, masih penasaran...

Neio first car (pic taken from littletikes.com), foto Neio riding his car nya belum ada yang OK:p

Mobil impian (maknya Neio):p...pic taken from amazon.com

Well, safety ride baby Neio...kalau ada rejeki nanti kita upgrade lagi ya bum-bumnya, aminnnn.

PS: Tx to uncle endo untuk first car Neio, semoga upgrade nya kelak bisa di beliin juga *kaboooor.


Kamis, 24 April 2014

Goresan Nadhifa #2

Sejak bisa baca tulis, kakak Nadhifa seringkali bikin surprise-surprise kecil lewat goresan tangannya. Biasanya berupa gambar formasi keluarga trus ada nama-nama anggota keluarganya, gambar bunga, gambar pemandangan, hotel, dan berbagai gambar lucu lainnya. Kertas-kertas itu biasanya ditaruh di tempat-tempat yang pasti saya lihat, seperti di lemari baju, dekat meja rias atau di atas kasur.

Nah, kemarin nih, si kakak juga iseng nih bikin tulisan. Jika biasanya tulisannya berupa ungkapan perasaan seperti sayang, senang dsb, kemarin saya dibikin terenyuh dengan tulisan kok yang isinya lebih tepatnya berupa curahan hati alias curhat-an (kakak kok cute banget siy...).

Dan isinya sukses bikin mami meleleh (dalam hati). Memang, kadang tidak disadari, di rumah si kakak kadang suka jadi tumbal. Jika adeknya yang berulah, ga sadar malah kakak yang dimarahi. Atau adeknya lagi rewel si kakak juga suka nyari gara-gara di saat yang hampir bersamaan, eh kepancing juga deh buat ngomel. Padahal maknya sadar banget si anak kecil Virgo ini sangat sensitif dan gampang terenyuh (just like me). Tapi, ya namapun reflek tetap saja lah ya kalau lagi kesel mah...(pembelaan kombinasi pembenaran). Maaf ya Kak, yang penting mami marah karena sayang koq sama kakak, benaran Kak, ciyuuuus... (dan si kakak akan berkata ;: mi apaaaah, halaaaah, mak sama anak kok jadi alay....).

Jadi, si kakak sebenarnya nulis apa siiiiiiiy...hehe. Ini dia....

Curhat niy yeee...
Saking si kakak masih kesal dan ga terima dimarahin, panggilan Mami pun diganti dengan nama Mami-nya, ckckckckc (Aku Rapopo Kak:p). Sementara di baliknya juga tertulis pesan buat Papi yang bakal bikin hati papinya berbunga-bunga (cieeeee....yang ga suka marah, padahal sekalinya marah selalu ditowel maminya biar ga keterusan).

Sebenarnya saya juga tipe ibu yang tidak tegaan untuk marahin anaknya. Tapi, kalau memang salah dan dibiarkan saja tentu ini juga tidak mendidik bukan. Si anak justru harus diingatkan dengan tegas, mana hal-hal yang benar dan salah.

Mungkin, ke depan intensitas marahnya mulai harus dikurangi ya Kak. Tapi kaaaan kalau ibu-ibu suka ada masanya tuh setiap bulannya, hahahaha (nanti juga Kakak pasti mengerti kok).

Jujur nih kak, jujuuuuuur, dibalik marahnya Mami, Mami tuh care banget sama kakak. Kelak kakak juga akan paham...

Rehat di Aldepos Salaca

Long weekend biasaya saya paling malas jalan kemana-mana. Pastinya karena jalanan yang macet dan tempat hiburan yang penuh sesak sudah terbayang di kepala. Sementara kita (terutama saya) yang menyukai keheningan dan menghindari suasana ramai selalu kesulitan mencari tempat liburan alternatif favorit. Tapi, karena si kakak Nadhifa sudah cerewet mau liburan (indikatornya setiap kali lagi jalan selalu nyerempet-nyerempet minta belok ke hotel atau apartment) tentu sebagai orang tua agak-agak gak tega juga untuk tidak merealisasikannya. Apalagi kalau dihitung-hitung, kurang lebih sudah 3 bulan kita tidak liburan.

Setelah mendiskusikan budjet dengan Pak Suami akhirnya kita segera browsing-browsing alternatif tempat liburan yang pas. Kenyamanan buat anak-anak tentu menjadi syarat utama dalam menentukan lokasi liburan. Tiba-tiba kepikiran juga untuk merubah mindset si kakak yang selama ini selalu membayangkan akan nginap di hotel atau apartment bertingkat selama liburan. Justru, kali ini kita ingin membawa anak-anak ke tempat yang lebih menyatu dengan alam dan tanpa gedung bertingkat.

Setelah browsing dan dapat masukan dari beberapa teman akhirnya kita sepakat memilih Aldepos Salaca Resort sebagai tujuan liburan long weekend kali ini. Meski liburnya 3 hari, tapi kita tetap nginapnya cuma sehari saja, hehe. Ternyata perhitungan kita tepat dong, kebayang juga kalau lebih dari sehari pasti kita sudah mati gaya di tempat yang sepi itu (lebih pastinya merusak bujet juga, hihihi).

Perjalanan ke Aldepos Salaca Resort ini kurang lebih 2,5 jam dan sesuai petunjuk pengelola resort kita keluar dari Tol Sentul Selatan, melewati Kampus Dermaga ITB, Cinangneng dan tinggal cari petunjuk sebelum akhirnya belok ke kiri dan nanjak 9,7 km ke arah Gunung Salak. Macetnya ya lumayan, paling parah ya pas arah pulang ke Jakarta, woooowww. Sampai-sampai si Papi driver kapok buat balik lagi, hehehe. Pas nanjak ke arah Gunung Salak, seperti biasa kakak Nadhifa ga sabaran untuk segera nyampai. Seringkali complain koq ga nyampai-nyampai (kebayang deh kalo kita road trip ke Jawa, huhuuhu).

Akhirnya, setelah melewati pemandangan sawah, gunung, pasar dan tenda kondangan warga yang bikin macet, kita bisa bernafas lega. Papan petunjuk Aldepos Salaca sudah di depan mata dan tinggal nyari kantor resepsionis. Area resor yang sangat luas (60 ha) sempat bikin keder juga, benar ga siy ini tempatnya?!. Sesampainya di resepsionis kita sempat mau nyari alternatif tempat lain (toh belum bayar DP juga, hehehe). Tapi begitu tiba di Kampoong dan melihat bakal kamar kita untuk semalam ke depan akhirnya luluh juga. Rumah kampong yang ada di pinggir sungai di lengkapi suara burung dan gemiricik air terjun kecil, wuiiih sensasinya beda sodara-sodara. Apalagi ketika kita melihat ekspresi Nadhifa, kayanya antusias banget. Benar-benar sebuah pengalaman baru.

Apalagi, saat booking, saya juga memesan sebuah tenda yang dari foto Facebook si Aldepos ini koq ya kayanya okeh banget tapi ternyata aslinya biasa aja, hehe (marketing lewat foto acapkali menipu konsumen). Tetap siy ada kasur dan selimut serta papan kayu sebagai alas, tapi tetap saja tidak secihuy di fotonya...Kita siy tetap mau pakai si tenda ini. Namun, si pengelola sempat berjanji  jika cuaca tak bersahabat (hujan badai), tenda ini bisa dicancel dan tidak di charge. Benar saja, hujan angin siang hari sebentar saja akhirnya salah satu kasur di tenda ini basah kuyup. langsung telepon resepsionis dan cancel lah ya kita. Gantinya kita tidur umpel-umpelan di kamar pake 3 extra bed (berhubung ukuran kampoong tipe studio ini agak lumayan jadi masih ga berasa sesak banget juga). O ya, nama rumah kita ini 'Sade', entah itu artinya apa...

Ini 'rumah kampoong sade' kami lengkap dengan tendanya yang ga jadi dipakai buat nginap, maaf ya om...

'ngaso' dulu ah...


main di sungai yang ada air terjun mini depan 'rumah kampoong sade'

Ternyata di akhir pekan kemarin hotel ini full booked. Gimana ga fool booked, lah wong cuma ada 12 villa (5 villa tipe studio dan tujuh lainnya dengan kapasitas ruang lebih banyak).

Area seluas 60 ha dan hanya ada 12 villa bikin Aldepos Salaca PeDe menjuluki dirinya sebagai 'Silent Kampoong'. Sepi beneeeer. Apalagi pas datang, kita kepagian (housekeepingnya aja masih beres-beres) jadi belum mendapati penghuni kampoong. Bahkan si kakek sempat kedeer dan bilang "Jangan-jangan kita doang niy yang nginap", hiiiii. Abis bebenah barang, kita langsung meluncur ke saung untuk makan siang. Untung tanda-tanda kehidupan mulai terasa disini. Beberapa saung sudah terisi dan ada saung yang dipakai anak-anak muda untuk mancing bareng. Menjelang makanan datang si papi iseng lah ya sewa pancing. Kalau kata papi "liburan jangan tanggung-tanggung", aiiih sukaaaa ama gayanya pap.

Kegiatan memancing tentu menjadi ajang perdana buat Nadhifa dan Neio. Si bocah yang girang ini takjub saat mata pancing berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi, ikannya kecil-kecil. jadi, buat diolah pun kayanya kita koq jadi kasihan sendiri, akhirnya setelah ditimbang-timbang, kita putuskan untuk melepaskan kembali si ikan-ikan itu, hehehe. padahal si Papi kayanya semangat banget buat barbequean, memang di villa sudah disiapkan fasilitas BBQ.

Soal makanan, rasanya standar, menunya juga seputar ikan-ikanan, cah kangkung, tumis sawi putih, nasi timbel dan sebangsanya. Harga ya standar resort tapi tidak terlalu mencekik koq (setengah mencekik menurut saya, hehehe). Sementara buat sarapan pilihannya ada nasi kuning atau roti bakar atau omelette (pilihan ya bukan prasmanan). Jadi kalau buat extra breakfast dikenakan charge Rp 35.000,- per pax. 

makanannya lama sodara-sodara, jadi photo session deh...


Fishing time...

Si jago mancing yang selalu bikin kehebohan...
Beberapa alternatif kegiatan yang bisa dilakukan disini diantaranya flying fox (anak dan dewasa), kalau nginap biasanya bisa free 1 flying fox anak/dewasa, perahu-perahuan mengitari danau, mandiin kerbau, naik becak mini, ATV, dan mancing. Semuanya ada charge nya mulai dari Rp. 30.000 per permainan. Kemarin siy Nadhifa cuma nyobain flying fox doang (for free) karena nungguin si kerbau ga datang-datang, kita mau pulang kerbaunya baru nongol, jadi maleees. See you next time kerbau *dadah. O ya, juga ada playground, ya lumayan lah ya buat anak-anak bocah.


Mommy's boy forever...


merosot...Neio said

Si kakak disuruh bergaya ala gadis desa kalem, tetap saja brutal...*tepokjidat
Serupa tapi tak sama
O ya disini juga ada kolam renangnya, persis di sebalah kantor resepsionis. Ukurannya siy tidak terlalu besar, tapi lumayanlah buat anak-anak. Yang luar biasa justru view nya. Woooow, memasuki area kolam renang, mata langsung takjub melihat keanggunan si Gunung Salak. Tanpa kabut pagi itu, Gunung Salak seolah menyambut kedatangan kita sambil berbisik "Enjoy the View". Subhanallah....indah banget.


Beautiful Salak Mountain...dan si kakak pun bertanya, 'mana salaknya Mi'?...


Ampun susahnya motoin model yang satu ini...
The boys

Kakek dan teropong kebanggaan...
Neio and Mommy VS Neio and Nanny


Di area kolam renang pula kita bisa melihat bebek-bebek lucu berenang, 2 orang utan, dan ikan-ikan di balong (semacam mini zoo gitu). Neio seneeeng banget. Trus persis di sebelah kolam renang juga ada sebuah rumah villa gitu. Sayangnya, tidak disewakan pemirsah. Ini hanya untuk kalangan terbatas (yang punya dan keluarganya kali yaaa).

Aldepos Salaca and its surroundings

Puas menikmati pemandangan Gunung Salak dan foto-foto tentunya, kita langsung sarapan ke saung (lagi) dan beres-beres persiapan check out. Untungnya adek Neio sempat-sempatnya tidur sebentar di resort sebelum kita cabut. Mumpung si adek tidur, si kakak Nadhifa juga bisa memanfaatkan failitas outbond gratisnya...

Kita termasunk beruntung lo check out sebelum lunch karena perjalanan pulang ke jakarta ternyata maceeeet parah. Over all, liburan kali ini seru dan fun abiiiis, dapat pengalaman baru dan yang terpenting si Kakak Nadhifa bisa mengerti jika hotel itu tidak salamanya berupa gedung bertingkat, hahaha (penting yaaaa).




Kakek yang selalu setia mendampingi...heheu
























Senin, 21 April 2014

Jebakan 'Batman' dan Magic Word

Jebakan 'Batman'

Masa-masa Neio belajar ngomong selalu menyimpan cerita dan kisah lucu... Jadi, ada masa Neio sudah bisa memilih 2 hal, namun selalu memilih opsi yang terakhir yang kita sebutkan, misaaaaal :

Kakak nadhifa : Neio, mami cantik atau jelek
Baby Neio       : Jelek
Mami              : (cemberut pasang muka BT)

Apakah percakapan sudah selesai? tentu belum, percakapan dipastikan berlanjut,

Kakak Nadhifa  :  Neio, kakak jelek atau cantik
Baby Neio         :  Cantik
Kakak Nadhifa  :  Yeeeeeiiii, makasih Neio (cium pipi tembem Neio)
Mami                :  (manyun)

Semenjak menyadari rumus baku jenis percakapan seperti itu, di lain waktu, di saat berdua dengan Neio seorang (kalau ada si kakak dikhawatirkan merusak kurikulum, hihi) saya langsung merumuskan jenis-jenis pertanyaan yang menaikkan mutu dan harga diri seorang ibu, hahahaha. Mulai dari pilihan jelek dan cantik (catatan : cantik selalu dijadikan opsi terakhir) untuk ibunya. Sampai pilihan untuk membangun kepercayaan dirinya sebagai anak ganteng, hahaha.

Hasilnya, suatu hari, pas lagi ngobrol sambil baca buku, tanpa ditanya, Neio mengeluarkan sebuah kalimat yang sangat penting, 'Mami...Cantik', huaaaa terharu aku terharuuuuu. Bapaknya yang saat itu menjadi saksi mata langsung takjub sekaligus kaget, spontan bilang 'Neio, gak salaaaah...masa siyyyy?'...#siapsiaplemparbuku.

Thanks my Neio...I love youuuu.

The Magic Word

O ya, Neio juga sudah mulai belajar mengucapkan kata I love you. Sama halnya dengan Kakak Nadhifa. Jadi, (biasanya) sebelum tidur saya akan memberikan Good Night Kiss buat si Kakak sambil bilang "I love you" dan si Kakak akan balik bilang "I love you too Mami". Nah, karena sudah terbiasa sejak kecil, maka setiap kali memberikan kiss pada si kakak pasti selalu dilengkapi kalimat-kalimat itu. Bahkan, pernah saya nyaris lupa si kakak sudah keburu tertidur, eh iseng saya nyium sambil ngebangunin gitu dan dalam kondisi setengah sadarnya dia tetap berujar "I love you too Mi", senangnyaaaa.

Lalu, hal yang sama juga ditanamkan pada baby Neio. Saat Neio mulai bisa ngomong, saya selalu iseng kiss kiss anak bayi sambil bilang 'I love you'. Hasilnya sekarang, setiap kali Neio kiss kiss saya pasti Neio juga akan bilang 'I wof you'...*BighugNeio

Pengennya sampai besar nanti kita akan selalu seromantis ini ya kiddos...Eitsss, ama bapaknya juga harus dong ah...:)

aku ... padamu Neio...



I (dont) Like Monday

Istilah I (dont) like monday sudah tenar banget kan ya. Apalagi dulu ada sebuah stasiun radio Jakarta yang bikin istilah ini jadi program rutinnya, on air dan off air. Ga tau juga deh sekarang programnya masih eksis atau gak. Jadi, mumpung gaungnya masih terdengar dan ada korelasinya dengan pengalaman di setiap senin saya, gak apa-apa dong dijadiin judul postingan, hehehe (suka-suka situh, toh ini kan blog situh..:p).

Jadi, sebenarnya setiap Senin (dan juga hari-hari lainnya) sebenarnya kisahnya mirip-mirip hehe, yaitu kesiangan a.k.a telat bangun. Tapi, ini bukan semata salah saya, justru Baby Neio lah yang selalu bikin saya sukses kesiangan, bahahaha, bisa-bisanya nyalahin anak kecil. Jadi, setiap kali mau bangun, baby Neio selalu nagih 'mimik'...'mimik" dan 'mimik' (semalaman masih kurang apa dek?). Sementara kan mami nya harus mandi dan siap-siap. Malu juga sholat subuh kesiangan terus, huaaaa.

Kruntelan ama Neio bangun tidur itu memang sesuatu yaaa (kalau ama Bapaknya mah ga usah dibahas lah ya, beda cerita, huhuhu). Biasanya, si Kakak selalu nyusul dari kamar sebelah dan kita kruntelan bertiga, wah indahnya dunia banget lah pokoknya itu. Apalagi di saat-saat weekend dan mereka mengerti mak-bapaknya ga harus ke kantor. Tapi, ya itu, ketika senin menjelang pasti semua langsung berubah drama. Di satu sisi masih ga tega ninggalin baby Neio yang masih pengen di kekeupin namun di sisi lain kewajiban sebagai aparatur harus dipenuhi, halaaah...

Seperti kisah senin pagi hari ini, di saat Neio masih ingin dikelonin, jarum jam mulai tidak bersahabat. Alhasil, saat akan pakai baju (maaf ya kalau agak vulgar, tapi entah kenapa baby Neio senang sekali menemani rutuinitas pakai baju abis mandi ini, apakah ini baik buat perkembangan anak laki-laki, mohon pencerahannya Kak Seto) pasti dia akan menunjuk lemari mana yang harus dibuka. jadi, memang Neio sudah bisa membedakan baju-baju rumah dan baju pergi. Jadi, pagi tadi, Neio dengan semangatnya langsung membukakan pintu lemari baju rumah lebih spesifiknya daster. Hal yang sama juga dilakukan hari-hari lainnya. Padahal, kan pagi ini akuh harus ke kantor. Namun, demi mengurangi kehebohan pagi itu akhirnya saya pakai lah daster pilihan Neio. Di saat Neio lengah, maka saya akan buru-buru ganti baju kerja (duuuuh, Neio pagi-pagi bikin galau deh ah).

Di saat yang hampir bersamaan, saya juga harus nyuapin Neio sarapan pagi. Pokoknya selama masih mencium 'aroma' maknya, Neio tidak mau disuapin orang lain, harus saya. Tak hanya sarapan siy, mandi juga gitu, makan siang apalagi, makan sore pasti dengan mak nya juga, pokoknya kalau sudah weekend, all long day with mommy. Mommy's little boy banget lah. Kalau sudah begini, bapaknya selalu ngomelin mak nya 'anak cowok koq dikekeupin terus, makanya jadi manja'. Lah, anaknya yang mau koq Pak (sok-sok defensive, hahaha).

Di usia yang mau 22 bulan ini, kosa kata Neio memang sudah cukup banyak, mulai belajar merangkai kata dan celetukan-celetukannya lucu banget deh. Kemarin, saat kita lagi cerita-cerita mau pergi gitu, tiba-tiba Neio bilang "Ituuut...dong". Jadi antara kata ikut dan 'dong' nya ada jeda aja gitu, hehehe. Sebelumnya cuma bilang "ituuuut" doang. Lalu, kalau sudah weekend pasti mobil gak akan bisa nganggur. Bentar-bentar Neio akan nunjuk-nunjuk 'bum-bum' (baca: mobil) nya sambil bilang "Jalan-jalan". Atau di lain waktu, si baby Neio akan berinisiatif sendiri ke laci penyimpanan kunci mobil sambil mainin remote dan kita sebagai orang dewasa menangkap sinyal kalau Neio mau jalan. Bahagianya jadi anak kecil yaaaaa...


Lalu, apa korelasinya dengan I (dont) like monday? hahahaha. Yup, senin menjadi hari dimana saya bisa terbebas dari rengekan-rengekan Neio (ibu durhaka *pisss) tapi tetap aja baru nyampe kantor diteleponin, kangen, hahahaha. Namun, jujur dari lubuk hati paling dalam, saya selalu berharap Senin juga jadi bagian dari Weekend. Maksudnya liburnya jadi Sabtu, Minggu, Senin...demi quality time bersama keluarga Pak Presiden...#mimpi