Senin, 07 April 2014

Grow Old with You

I wanna Grow Old With You - Adam Sandler

I wanna make you smile  
whenever you're sad  
carry you around 
when your arthritis is bad  
all i wanna do, is grow old with you
 

I'll get you medicine 
when your tummy aches  
Build you a fire if the furnace breaks 
So, it could be so nice 
growing old with you,....
 

I'll miss you  
Kiss you  
Give you my coat when you are cold  
Need you 
Feed you 
Even let you hold the remote control.
 

So let me do the dishes 
in our kitchen sink 
 Put you to bed when you've had too much to drink  
Oh I could be the man 
that grows old with you  
I wanna grow old with you

Nyanyiin lagu ini pasti langsung kebayang Adam Sandler ngejar Drew Barrymore ke atas pesawat trus si Adam nya nyanyi sambil diliatin penumpang satu pesawat di film "The Wedding Singer". Kalo ga salah film ini sempat booming di akhir tahun 90-an (huaaaa, tua bangeeettt). Seperti banyak film Hollywood lainnya, bisa ditebak, endingnya Mbak Drew ini termehek-mehek trus meluk dan kiss si Mas Adam gitu kan yaaaa....

Tapi, buat saya si Roker (Rombongan Kereta) dan Walker (pejalan kaki) sejati ini punya interpretasi sendiri bila ingat lagu ini. Atau lebih tepatnya, beberapa kali lihat adegan nyata di kehidupan sehari-hari yang akhirnya reflek langsung bersenandung nyanyiin lagu ini. Pernah saat masih suka naik kereta ekonomi (waktu itu masih ada Kereta Rel Listri/KRL yang belum pakai AC) sering banget melihat sepasang kakek nenek yang berjuang ikut naik di stasiun kedua setelah stasiun keberangkatan. Pastinya sudah penuh dong. Memang ada saja penumpang yang selalu memberikan kursinya pada pasangan lanjut usia ini. Tapi, koq ya tetap saja ngenes ngeliatnya. Setiap hari masih harus beraktifitas rutin layaknya pekerja kantor produktif padahal mereka sudah seharusnya beristirahat karena kondisi fisik yang pastinya sudah serba terbatas. 

Si kakek, yang sepertinya berusisa 70-an dan mengalami masalah penglihatan selalu menggandeng tangan si nenek, seolah takut terpisah. Begitu juga sebaliknya, si nenek juga akan mendahulukan si kakek untuk duduk ketika kursi yang tersedia hanya cukup 1 orang. So sweet

Semoga transportasi umum kita bisa lebih ramah ya buat lansia...
 Di adegan lain, saat jalan kaki dekat rumah, sepasang kakek nenek lanjut usia terlihat asyik ngajak main cucunya yang masih batita. Usia lanjut tak menghalangi mereka untuk menemani cucu tercinta. Mengingatkan saya akan kebersamaan Mama dan Papa dulu saat menemani Nadhifa bermain. 

Tapi masih teringat jelas bagaimana Papa merawat Mama dengan penuh kasih saat Mama sakit dulu. Bahkan, kita anak-anak tidak ada yang menyaingi ketelatenan Papa. Ketika kita bilang "Ayo Pa, gantian, papa istirahat dulu, kan capek", dengan lirih Papa akan menolak, "Udah, biar Papa saja, toh Mama sudah merawat dan membesarkan 3 orang anak Papa." *speechless dan berkaca-kaca.

Belum lagi ketika membaca kebersamaan Ibu Ainun (Almh) dan Bapak Habibie di buku Habibie Ainun yang juga sempat difilmkan. Itu seolah-olah cerminan kisah Mama dan Papa banget (di masa sakit Mama dulu). Tak mau berpisah sedetik pun. Seolah tak ingin melewatkan rintihan kesakitan atau bahkan detik-detik saat ajal menjelang sekalipun.
kebersamaan yang indah dan selalu manis untuk dikenang
I Wanna Grow Old With You dalam kisah nyata ternyata jauh lebih meaningful dibandingkan kisah-kisah manis di film manapun. Menyaksikan langsung gerak-gerik pasangan dengan penuh cinta di usia senjanya. Tertawa dan menangis bersama, berbagi cerita, berpegangan tangan, hingga akhirnya maut memisahkan, dan yang masih diberikan umur panjang akan membisikkan kata Lailahaillallah dan 'selamat jalan sayang' ke telinga pasangannya. 

And I Wanna Grow old With You too Hubby 


This story tribute to you Papa...best ever daddy in the world








Coretan Menjelang Pileg 2014

Yeay, besok libur nasional. Rabu, 9 April 2014, warga Indonesia menyambut pesta demokrasi ke sekian di alam (yang katanya) reformasi lewat Pemilihan Legislatif (Pileg). Buat saya, Pemilu tidak terlalu meninggalkan kesan yang berarti. Lahir di keluarga yang jauh dari hingar bingar politik membuat pendidikan politik saya kacau. Saya justru banyak belajar politik ketika dulu menjadi jurnalis televisi. Belajar pun otodidak lewat obrolan dengan teman, wawancara narasumber dan baca-baca berita lalu membuat analisa sendiri yang terkadang cukup objektif namun seringkali subejktif.

Tahun 1999 harusnya menjadi moment pertama menggunakan hak pilih, tapi sepertinya saya melewatkan momen tersebut karena masih baru-baru kuliah. Tahun 2004 yang harusnya menjadi Pemilu kedua buat saya sepertinya juga terlewatkan begitu saja. Baru pada 2009, saat itu sudah berkeluarga dan terdata sebagai warga DKI Jakarta, saya menggunakan hak pilih pada Pileg maupun Pemilihan Presiden (Pilpres). Kalau Pileg karena kebetulan ada kakak ipar yang kebetulan politikus ikut bertarung di Derah Pemilihan Jakarta Timur dan kebetulan KTP saya waktu itu mencantumkan domisili di Jatinegara Jakarta Timur (maklum ya masih jaman KTP 'nembak', hehehe). Jadi, sang suami yang pasti punya banyak kepentingan itu bela-belain mengantarkan saya dari rumah Bintaro untuk mencoblos ke Cipinang Muara. Perjuangan banget deh waktu itu nyari Tempat Pemilihan Suara (TPS) yang nyempil-nyempil demi satu suara buat sang Kakak Ipar.

Meski akhirnya si kakak ipar ini tidak terpilih, tapi kok kayanya senang saja sudah menggunakan hak pilih kala itu. Kayanya plong aja gitu. Mencoblos keluarga sendiri yang kita tahu kapabilitasnya di dunia politik. Di tahun yang sama, saya juga mencoblos saat Pilpres. Pokoknya niaaaat banget lah ya. Mengharapkan sebuah perubahan yang nyata karena selama ini kok kayanya masyarakat Indonesia 'terlena' dengan kecakapan retorika dibalut pencitraan dari Presiden sebelumnya yang ternyata tidak banyak membawa perubahan signifikan bagi bangsa. Malah, bangsa ini sepertinya tersandera korupsi kronis tak tersembuhkan.

Saat itu saya berharap presiden pilihan saya dapat menang dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan tentu bekerja lebih cepat. Sedihnya, ternyata si Bapak asal Sulawesi ini tidak menang sodara-sodara (ketebak lah ya). Ironisnya malah cuma mendulang suara 12% saja. Si partai biru itu benar-benar naik daun saat itu.

Kini, di tahun 2014 penyakit malas mencoblos itu tiba-tiba menyerang kembali. Kali ini malah lebih parah daripada tahun 1999 dan 2004. Saya yang sudah berubah haluan menjadi seorang PNS dan kebetulan dipimpin seorang Gubernur yang (terkondisikan) jadi Capres pula semakin tidak tertarik untuk menggunakan hak pilih. Setidaknya untuk pemilihan legislatif. Sebagai orang yang pernah bekerja di media dan cukup rajin baca berita, kok saya tidak melihat sosok wakil rakyat yang layak untuk dipilih (setidaknya di wilayah domisili saya).

Saat ini, Calon Legislatif (Caleg) malah ramai mengampanyekan diri lewat pohon (yang jelas-jelas bikin kumuh dan rusak mata). Lewat spanduk yang pasti butuh modal banyak. Lewat angkot yang lagi-lagi pakai duit. Bahkan, beberapa caleg mengiklankan diri lewat surat kabar dan televisi yang biayanya lebih gila. Asumsi bodohnya, lewat dana yang segitu besar, mereka para caleg ini pasti akan memutar otak untuk balik modal kala duduk di kursi DPR nanti, iya kaaaan. Kenapa siy, mereka tidak mendekatkan diri dalam arti sebenarnya kepada calon pemilih mereka, kenapa siy mereka tidak membuat cara-cara kreatif lewat sebuah gerakan yang akhirnya bisa menggerakkan warga untuk memilih mereka. Toh, pastinya banyak cara-cara ciamik yang bisa dilakukan atas nama kegiatan menjaring aspirasi daripada sekedar cetak spanduk atau pajang foto dimana-mana...

Toh, lewat spanduk dan foto ini kita seringkali tertipu. Sebagai warga Tangerang Selatan yang sudah tinggal di Tangsel sejak 2008 (beberapa bulan sebelum kelahiran Tangsel) dan menjadi saksi mata betapa warga 'dibodohi' oleh spanduk. Beberapa bulan menjelang kelahirannya, Tangsel dipenuhi spanduk yang memajang foto perempuan cantik dengan pesan-pesan tidak penting (menurut saya). Mulai dari selamat puasa, selamat lebaran dan selamat-selamat lainnya. Ujung-ujungnya malah Tangsel dan Banten tidak selamat (dari cengkraman korupsi dan politik dinasti) *miris.

Semoga para pemilih besok tidak terjebak lagi ya dengan tampang manis di spanduk, poster atau televisi. Semoga pemilih bisa bisa cerdas dan cermat memilih wakil rakyatnya yang benar-benar mau bekerja dengan hati dan benar-benar bisa membawa kebaikan bagi rakyat.

Bagi saya pribadi, hingga saat ini sosok itu belum terlihat. Jadi, biar adil, besok saya akan mencoblos semua nama yang ada di kertas surat suara:p


Lain halnya dengan bapak suami yang sudah memantapkan hati dan akan menempuh perjalanan ratusan kilometer demi mendukung sang kakak yang kali ini bertarung di Dapil andalannya, tanah kelahirannya sendiri.

Caiyyyoooo suami (nah loooo mulai hilang fokus), hahahaha.

Caiiyyo Indonesia, selamat memilih, semoga negara ini benar-benar bisa selamat...

Insya Allah




Rabu, 02 April 2014

Jurus Parenting ala Rhenald Kasali


Lupa persisnya tahun berapa, kalau gak salah saat itu lagi tugas sebagai reporter di desk Ekonomi dan Bisnis (Ekbis). Biasanya suka nongkrong di beberapa kementerian dengan 'aroma' Ekbis, misalnya, perdagangan, perindustrian, keuangan, dan beberapa kementerian lain yang terkait. Nah, pas lagi menghadiri Konfrensi Pers di Kementerian Perdagangan, saya berkesempatan kenalan dengan pakar  marketing dari UI ini. Kesan pertama, orangnya humble, komunikatif pastinya dan ramah bangeeeet. Menyandang status sebagai reporter baru dan fresh graduate juga, sebenarnya masih agak-agak kaku gitu di lapangan. Tapi Mr. Rhenald Kasali bisa mencairkan suasana dan membangun suasana akrab meski baru pertama kali bertemu.

Singkat cerita, setelah bertukar nomor telepon beliau bilang "Nanti saya kirim buku saya ya, kamu tolong SMS alamatnya". Saya yang waktu itu ga terlalu berharap juga, santai saja bilang "Ok, Pak, makasih, sampai ketemu". Standar lah ya. Tapi, selang beberapa hari, ternyata si Bapak ini telepon dan minta di sms in alamat saya segera. Surprise juga. Tapi, lumayan dong buat baca-baca dan nambah koleksi buku, grateees pula. Akhirnya lewat seorang kurir, buku itu pun nyampai di kos an saya. Dilengkapi tanda tangan di halaman awal, akhirnya saya baca buku "CHANGE" karya Rhenald Kasali, dikirimkan langsung oleh penulisnya, senaaang.

Dulu, waktu kuliah di komunikasi juga pernah baca beberapa buku marketing karya Rhenald Kasali. Tapi, ketika baca buku yang dikirimkan langsung oleh si penulis itu tetap beda ya... agak-agak gimana gitu, halah.

Tahun berlalu, buku CHANGE ini juga sudah pernah dipinjam oleh adik saya yang kuliah di Teknik Industri. Si adik juga sempat kaget pas lihat message khusus dan tandatangan di lembar pertama, tapi akhirnya maklum juga karena punya Kakak Reportel Handal (jepit), hahahaha.

Lama tak berjumpa dengan Bapak Rhenald Kasali, tiba-tiba pagi ini baca artikelnya di sebuah situs surat kabar Online saat di Kopaja dalam perjalanan menuju kantor. Judulnya "Mengapa Anak Pintar di Sekolah, Ekonominya Bisa Sulit?". Menarik dan menginspirasi sekali. Apalagi buat saya di masa-masa galau dalam proses parenting.

Sebagai dosen senior di UI, pastinya Mr. Rhenald Kasali ini sudah menemui berbagai karakter mahasiswa. Kisahnya berawal dari sebuah ilustrasi saat seorang mahasiswa S2 begitu susah menyelesaikan thesis S2 nya. Semua judul yang diajukan selalu ditolak oleh dosen pembimbing. Padahal sejak SD hingga kuliah, mahasiswa ini selalu menduduki peringkat 1. Sementara teman-temannya yang lain sepertinya begitu mudah dan pintar mencari celah dalam proses thesis hingga akhirnya menyelesaikan studi S2.

Mungkin hal inilah yang banyak tidak disadari oleh orang tua. Anak yang menjadi bintang kelas ternyata menyimpan kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Semuanya serba sudah dikondisikan. Kesulitan dalam pelajaran tertentu akan langsung direspon orang tua dengan menyediakan guru les dan privat. Sementara realitas orang dewasa tidaklah sesederhana itu.

Akhirnya anak akan tumbuh dengan dunia yang sudah sangat mudah ditaklukkan (setidaknya menurut mereka). Padahal, realitas kehidupan orang dewasa nantinya akan diwarnai dengan kesulitan dan rintangan.

Membaca artikel seperti ini membuat saya berkaca dan menginstropeksi diri. Jika saya tidak membaca tulisan ini, sepertinya bibit-bibit orang tua seperti contoh di atas ada dalam diri saya. Memiliki 2 anak yang masih dalam proses tumbuh kembang (5,5 tahun dan 2 tahun) dan dalam kondisi ekonomi yang alhamdulillah cukup dalam artian bisa menyediakan tempat tinggal yang layak, menyediakan sarana transportasi, sesekali bisa liburan (seputaran Jawa dan Sumatera sesuai asal orang tuanya, hehehe), menyekolahkan di sekolah yang baik, sesekali memberikan hadiah atas prestasi mereka terkadang membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri, kira-kira tantangan seperti apa yang cocok buat mereka.

Jujur, sebagai orang tua kita pasti akan melakukan apa saja demi kebahagiaan anak. Tapi, di sisi lain, si anak juga butuh tantangan sebagai modalnya menghadapi realitas dunia kelak. Kepikiran untuk mengajarkan anak-anak naik angkutan umum seperti angkot, kereta, dan alternatif angkutan umum lainnya. Tapi, seperti yang kita tahu, sekarang ini kan angkot banyak yang tidak nyaman buat anak-anak. Apalagi kereta, tiket seharga Rp 2000 membuat orang beralih menggunakan kereta dan keretapun penuh sesak. Belum lagi kalau harus membayangkan banyaknya tindakan kriminal di angkutan dan jalan raya. Huaaa, horror sekali rasanya. Skeptis kah saya atau over protektif kah saya? Entahlah...

Rhenald Kasali dalam artikelnya menuturkan, Psikolog Stanford University, Carol Dweck yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success menulis “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan.”

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orang tua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya. Bahkan, banyak pejabat yang mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. 

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua justru mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuatmu terlalu gampang nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”.


Benar banget ya, selama ini saya selalu menghamburkan pujian buat anak-anak, niatnya untuk membangun kepercayaan dirinya. Tapi ternyata, pujian pun ada dosisnya dan sepertinya pujian saya terhadap anak-anak (terutama Nadhifa) sudah over dosis *tutup muka. Beberapa kali saya mendapati Nadhifa ngobrol dengan orang-orang di sekitarnya, entah topik sebelumnya apa, tapi dia suka menyelipkan kata-kata "Iya, karena aku kan cantik.". Jeng....jeng...Atau, sesekali dia mengerjakan kumonnya dan sesuai target, lantas dia akan berujar "Mmmhh, aku pintar kan...". Pujian yang over dosis mengakibatkan anak cenderung menjadi over confidence.

Saran Ibu Dweck, dari kecil anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang. Bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Menurut Ibu Carol Dweck dari hasil perenungan Mr. Rhenald Kasali, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

So, mulai sekarang, saya sepertinya harus secara bertahap mengurangi pujian-pujian terhadap anak-anak dan beralih menggunakan jurusnya Ibu Dweck dan Mr Rhenald ini, saatnya berubah *singsingkan lengan baju pake ikat kepala.

 
Kiddos, Are you ready for challenges...Yesssss



 

Bangga Berbaju Adat

Masa TK itu kan memang masanya tampil ya. Mengasah keberanian anak di berbagai moment. Nah sejak bersekolah di TK Auliya ini kakak Nadhifa alhamdulillah kakak Nadhifa sudah beberapa kali tampil di sekolah dan pernah juga di beberapa kali ikut perlombaan. Meski setiap kali lomba semangat untuk menang itu selalu ada, namun memang karena belum saatnya kakak hanya bisa berujar "Aku Rapopo", hahahaha. Yang penting eksis ya Kak.

Nah, ngomong-ngomong soal tampil ini, Nadhifa juga sudah 2 kali menggunakan baju adat daerah. Pasti pada menebak waktu hari Kartini-an kan?!. Salah teman-teman. Selama 2 tahun bersekolah di TK Auliya ini justru kayanya belum pernah tuh si kakak tampil pawai berbaju adat begitu, termasuk di Hari Kartini. Justru anak-anak menggunakan baju adat menyesuaikan dengan tema pelajaran di sekolah. Misalnya tentang "My Country" trus anak-anak bisa berekspresi dengan baju adat pilihan (orang tua) masing-masing.

Sebagai gadis kecil keturunan Padang, sudah pasti lah ya, mak nya sangat antusias memakaikan baju adat dari daerah Padang *si papi lipat muka. Trus untuk membesarkan hati si Papi, Nadhifa pun bilang "Nanti kalau jadi Putri Indonesia, aku pilih baju Jawa deh Pi", hahahaha. Anak kecil emang paling bisa ya nyenengin hati orang tuanya...:)



Anak Gadih Minang #TK A

Di lain kesempatan, Nadhifa juga diminta menggunakan baju dari Sulawesi. Kata Ibu Guru siy buat foto session di sekolah untuk Buku Tahunan. Setiap anak-anak TK B pasti akan dibuatkan buku tahunan dan biasanya tematik gitu. Kalau gak salah siy kali ini temanya "Indonesian Little Star" yang menggambarkan keragaman budaya dan adat istiadat di Indonesia juga. Entah karena pertimbangan apa, si kakak kebagian pake baju bodo dari Sulawesi Selatan. Meski bingung juga menjelaskan kenapa dinamakan baju bodo. Bahkan sempat nanya sama teman yang asal Makassar sekalipun tetap tidak tahu kenapa namanya baju bodo, bukan baju pintar atau baju cerdas, hehehehe.

Baju Bodo dengan gaya yang mulai terarah #TK B

Untuk foto session di sekolah tetap ya harus pake kerudung dan manset, kan sekolah Islam ceritanya. Sebenarnya saya pribadi lebih senang liat yang ga usah pake manset, terlihat lebih natural dan kesan anak-anaknya dapat banget, hehehehe. Tapi, namapun nyekolahin anak di sekolah berbasis agama jadi tetap harus ikut aturan sekolah dong ya. Sebenarnya ada beberapa foto bersama si adek Neio juga. Tapi, motret anak 1,5 tahun itu tantangan banget ya. Buktinya, foto kakak bersama adek Neio pasti selalu blur aja gitu di bagian si adek...pppfffhhh. Have fun kakak, my Indonesian Little Star.
Wonderful mommy with wonderful daughter #mommyanddaughtermoment



Selasa, 01 April 2014

Filosofi Kuaci

Belakangan ada fenomena baru di kantor yang bikin geli tapi seru. Biasanya dilakukan buat killing time, iseng sambil browsing atau sambil ngobrol/ngerumpi. Saking asyiknya, pagi-pagi mulai ngemil, kadang ga sadar udah waktunya jam istirahat...trus ga lama kemudian mulai lagi, eh, udah jam pulang kantor saja. Udah ketebak lah ya secara di judulnya juga ada, ya, kita di kantor lagi keranjingan kuaci.

Saya sebagai salah satu konsumen aktifkuaci ini sempat kepikiran lo mau menyelenggarakan kompetisi kuaci se katnor. Tapi, masih bingung nyari sponsor, hahahaha. Namapun kompetisi, at least ada hadiah lah ya yang harus diperebutkan. Semoga Gubernur atau Wakil Gubernur berkenan menyumbangkan 1 buah piala bergilir demi terselenggaranya kompetisi kuaci ini *mimpiiiiiiii.

Talking about kuaci, adalah Mince (penjual berbaagai macam produk yang sudah belasan tahun ngider di kawasan Balaikota DKI Jakarta dan popularitasnya dipastikan mengalahkan Bapak Jokowi sekalipun *di Balaikota DKI lo ya) yang mulai membangkitkan kenangan kita kembali terhadap butir-butir imut yang suka bikin penasaran ini. Entah kapan terakhir kali mengonsumsi kuaci, tapi ketika kembali mencoba menguliti butir demi butir kuaci ini koq ada sensasi tersendiri ya, hahahaha.
foto dari sini

Berikut beberapa filosofi kuaci yang sangat personal dan subjektif menurut saya :

1. Kuaci mengajarkan pada kita untuk selalu berusaha. Bayangkan ketika kita mengambil sebutir kuaci dan dan berupaya mengupasnya namun terkadang isi di dalamnya malah rusak atau rasanya tidak seperti yang kita byangkan, bahkan terkadang ada yang kosong alias hampa. Sejatinya hidup juga begitu kan ya?!. Usaha yang sudah kita lakukan tidak selamanya berbuah manis:p. Apapun hasilnya, yang penting jangan cepat menyerah dan tetap optimis.


2.Menikmati kuaci juga berarti melatih kesabaran. Kenikmatan kuaci baru terasa ketika sudah memakan minimal satu genggaman kecil. Jadi, tidak sedikit orang yang akhirnya berhenti di tengah jalan sebelum menikmati sensasi sang kuaci. Biasanya komentarnya, "udah ah, malas, capek makannya" atau "kurang kerjaan ngulitin kuaci di dalamnya cuma secuil doang". Justru, bukankah semua yang dijalani dengan penuh kesabaran pasti akan berakhir indah pada waktunya:)

3. Mengonsumsi kuaci juga harus konsisten. Konsisten agar ketika proses menguliti jangan sampai kena bibir (baik atas maupun bawah). Kadar garam kuaci yang cukup tinggi membuat bibir berasa jontor kalo terkena kulit kuaci saat mengulitinya.

4. Melalui kuaci kita bisa menguatkan silaturrahmi dan persaudaraan. Bayangkan, ngobrol sambil ngemil kuaci itu benar-benar ga berasa bow. Di saat tangan dan mulut saling berkoordinasi untuk 'menaklukkan" si kuaci, beragam tema dan topik obrolan pun bisa mengalir saat itu. Bener ga siy...bener aja lah ya...*maksa

5. Last but not least, kuaci juga menguji komitmen kita dalam menjaga kebersihan. Biasanya, makan kuaci enaknya sambil duduk ya, lalu bekal tissue satu lembar dan begiru selesai dikulitin, kulitnya langsung ditaruh deh di tissue. Nanti kalau sudah kelar gampang dong, tinggal gulung tissue trus buang ke tempat sampah terdekat. Tapi, kenyatannya, pernah loh ketemu sama 2 orang anak manusia yang sedang berdiri dalam Kereta Commuter Line Jabodetabek sambil menikmati kuaci. Tanpa merasa berdosa, 2 orang cewek-cewek ini malah membuang kulit kuaci langsung ke lantai yang jelas-jelas mengotori lantai kereta. Memang siy, ada petugas kebersihan, tapi kok terlihat norak aja ya, makan kuaci jorok begitu. Spontan saat itu karena gemes saya langsung negur dong "Mbak, sampah kuacinya jangan dibuang sembarangan gitu, jorok". Eh, si mbak nya bete dong pemirsah. Sambil memandang dengan sudut mata gitu ke arah saya. Saya balik menatap dengan tatapan yang kalau diartikan kurang lebih maknanya, "Halllllooooo....hari gini kok ya masih nyampah sembarangan". Semoga mbak itu bisa ya menerjemahkan arti tatapan saya saat itu dan gak nyampah lagi kalo makan kuaci, hehehe.

Mmmmhhh, kira-kira ada pembelajaran apalagi ya dari si kuaci ini? hehehehe. Kalau menurut saya sih kayanya baru itu aja...Any idea Kuaciers?

Eh, pas lagi nyari foto buat tulisan yang ini malah ketemu artikel manfaat kuaci dari salah satu berita on line surat kabar di sini, makin cinta deh ama kuaci...I love you kuaci, camilan ringan menyehatkan, hahahaha *ala duta kuaci.





Hotel = Rumah Baru #Bandung #Trip #2012



Merencanakan perjalanan liburan bersama dengan teman masa kuliah ketika status sudah berkeluarga itu sesuatu ya. Tidak hanya masalah jadwal yang biasanya susye bener matching-in nya atau itinerary perjalanan mau kemana aja, dan pretelan-pretelan kecil lainnya yang biasanya suka ribet sendiri, misal hotelnya dimana, tarifnya berapa, makannya di restoran mana, en so on....en so on....

Nah, ceritanya awal 2012 lalu iseng mau liburan bareng si Eka, sohib jaman kuliah yang kebetulan juga nikahnya hampir barengan dan punya anaknya juga nyaris bersamaan (tapi lakinya ga barengan lo ya, hehehehe). Kebenaran juga saat itu ada teman kuliah lainnya yang masih satu gank abis lahiran di Bandung, jadi klop lah yaaaa. Niat liburan bareng bonus makan siang di tempat teman yang baru lahiran anak ke dua, sebut saja namanya Diah, hahahaha (emang itu namanya juga kelles:p).


Berangkat pagi dari Bintaro, niatnya mau ketemuan di Rest Area karena kebetulan saat itu Eka ini masih berdomisili di Serang, Banten. Trus, alat komunikasi yang makin canggih sukses bikin kita gak ketemu-ketemu di KM yang sudah dijanjikan, hahaha. Ketemu-ketemu malah langsung di rumahnya Diah di Margahayu, Bandung.

Setibanya di rumah Diah, eh ternyata udah dimasakin macam-macam loh ama si Ibu (Maknya Diah). Jadi ga enak sendiri, mana beli kadonya diskonan pula *buka aib. Berasa nostalgia ke jaman kuliah kala kita sebagai anak kos an, beberapa kali merasakan makanan rumahan ala Ibunya Diah ini, nikmaaaat banget (kombinasi enak dan ga harus bayar:D).

Nah, sementara buat Kakak Nadhifa yang biasanya kalau liburan selama ini ketemunya paling sodara-sodara sepupu, kali ini terlihat antusias sekali bermain bersama teman-teman barunya. Ada Kayla (anak pertamanya Diah) dan Thoriq (anak kakaknya Diah) dan Khalfani serta Kanaya (anaknya Eka). Senang ya kalau pertemuan seperti ini rutin diselenggarakan berapa bulan sekali gitu....#ngarep #colekDiahEkaDessyDini.

Bocah-bocah baru ketemu tapi langsung ikrib

Puas bermain di rumah Dian, kami langsung menuju hotel Banana Inn yang terletak di Jalan Setiabudhi. Pertimbangannya siy simple, biar lebih dekat ke Rumah Stroberi, karena saat itu kita memang rencana mau kesana. Setibanya di hotel (meski bukan kali pertama), si kakak excited banget. Melihat bangunan bertingkat, ada Kids Corner, Swimming Pool, plus kamar serba bersih dengan suasana yang baru. Penggunaan kartu sebagai access card buat masuk juga menjadi catatan tersendiri buat si bocah ini.

Kesempatan berenang tentu tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Air yang sangat dingin didukung cuaca yang dingin pula sebenarnya menjadi alasan sangat pas untuk tidak berenang. Tapi, berhubung si 2 bocah (Nadhifa dan Khalfani) keukeuh untuk tetap berenang, jadi terpaksa lah ya Bapak-bapaknya harus ngalah. Bagaimana dengan ibu-ibunya? Tetap tidak berenang kok, hihi. Saya siy sibuk sebagai seksi dokumentasi, sementara Mimi Eka kayanya sibuk dengan baby Kanaya di kamar (untung waktu itu baby Neio masih di perut ya, hahaha).


Kelak mengklaim hotel ini sebagai rumah barunya #Nadhifa3,5yearsold

Capek berenang, malamnya kita keluar nyari makan. Berhubung udah capek dan pengen istirahat biar besoknya anak-anak fresh, akhirnya kita makan dekat-dekat hotel. Menunya siy standar, nasi timbel dan sop buntut. Sayang, rasanya di bawah standard dan harga di atas rata-rata *kecewa. Gak apa-apa lah ya, karena siangnya kita dah makan enak di rumah diah plus grateees pula *menghibur diri.

Keesokan paginya, Nadhifa lagi-lagi antusias dengan breakfastnya. Nama pun pertama kali menikmati sarapan ala orang besar (dulu waktu nginap di hotelnya masih bayi jadi tidak begitu menikmati saat-saat breakfast) di hotel dan melihat beraneka makanan menggugah selera, si bocah berasa mau dimakan aja gitu semua. Ujung-ujungnya malah beugah sendiri a.k.a kenyang ga jelas, hehehe.

Ga mau berlama-lama di hotel, akhirnya abis mandi kita langsung meluncur ke Rumah Stroberi. Tempatnya seru buat anak-anak, naik tangganya aja agak-agak ampun (buat bumil terutama, hehehe). Nadhifa dan Khalfani lagi-lagi excited metik-metikin stroberi. Seru deh jadi referensi tempat liburan anak-anak alternatif kalau bosan dengan suasana kota Bandung yang biasanya macet dimana-mana. Selain metik-metikin stroberi, arena bermain buat anak juga lumayan. Nadhifa senang banget nyobain flying fox tendem ama si papi (lagi-lagi for the first time).

In action...#buddy
I love strawberry...lanjut fun flying fox ama papi, maknya stress ngebayangin kalo talinya putus *tutupmata


Sohib forever, Nadhifa latihan punya adek...#kecupkanayya

fun...fun...fin

Puas bermain di Rumah Stroberi akhirnya cuaca mulai mendung. Gak mau terjebak hujan, kita langsung lunch. Menu-menunya juga lumayan sodara, baik rasa maupun harganya (kayanya dulu ditraktir mpok Eka deh, nuhun tanteeee *kecup). Benar saja, abis sholat zuhur langsung ujan gede aja. Ya wis, kita langsung merapat ke Dago, beli oleh-oleh bentar dan back to Bintaro. Sementara si mpok Eka dan keluarga kayanya masih extend nyari-nyari hotel lagi.

Sepanjang perjalanan pasti ngebayangin si kakak Nadhifa akan istirahat di mobil karena kecapean kan ya. Tapi, kenyataan berkata lain. Si kakak ternyata berontak ga mau pulang. Intinya, dia ga mau pulang, buat dia Banana Inn adalah rumah barunya. Dia pengen rumah yang masuknya pake kartu bukan kunci biasa kaya di Bintaro. Pengen kamar yang ada TV nya pula. Pokoknya, berulang kali menegaskan tidak mau tinggal lagi di Mahagoni (Bintaro) lagi, maunya hanya di otel 'pisang'. Helllloooo....

Rengekan-rengekan Nadhifa mewarnai perjalanan pulang sampai akhirnya tiba di rumah. Kebayang dong, dari tol Cipularang sampai Bintaro kita susah payah menjelaskan betapa hotel itu cuma tempat singgah sementara saja dan rumah kita sebenarnya ya di Bintaro. Antara pengen ketawa, tapi kesel juga. Sejak saat itu kita selalu menekankan pada Nadhifa, rumah kita sebenarnya ya di Bintaro. Rumah yang menjadi tempat ia tumbuh dan belajar memaknai kehangatan sebuah keluarga. Rumah yang setiap sudutnya penuh dengan cerita cinta, suka dan duka. Rumah yang akan menjadi 'sorga' kecilnya di dunia. Deal ya Kak...*kedipmatakanan dengan sound effect *ting






Senin, 31 Maret 2014

April Mop



Kisah di bulan April yang selalu saya ingat adalah pengalaman April Mop dari si adik. Tepatnya tahun 2000 ketika baru menyandang status sebagai anak perantauan merangkap anak kos yang tengah berjuang menggapai impian tiba-tiba saya ditelepon oleh adik yang saat itu masih duduk di bangku SMA di Padang.

Entah terinspirasi dari mana, sore hari si bungsu ini nelpon ke Hand Phone Nokia 6210 (ceileeeh pake disebutin detail gitu seri nya, ya iyalah ya, secara lagi happening sangat pada masanya dan sebagai mahasiswa baru pastinya punya kebanggan tersendiri memiliki HP Nokia 'pisang' itu, halaaah) dan dengan suara bergetar doi bilang "mama baru saja jatuh dari tangga dan sekarang lagi dibawa ke rumah sakit". Whaaaat...kebayang kan rasanya, terpisah jarak ribuan kilometer trus bingung gak tahu harus ngapain, yang terasa saat itu hanyalah dunia berubah gelap dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya saat itu merasakan dengkul lemas. Dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk saya menguatkan diri bertanya kronologis kejadian sambil tertatih-tatih menggapai tempat tidur seorang diri (fakta bukan drama*bolditalic).

Tak mau mendengar kakaknya semakin panik, akhirnya si adik rese ini langsung tertawa sambil teriak "I GOT YOU, APRIL MOP". "Hah, makhluk apalagi ini si April Mop ini?", ujarku saat itu. Maklum ndeso bro, heheh. Tanpa merasa berdosa dia menjelaskan lah kalau di tanggal itu kita bisa bebas ngerjain orang. Tapi, ya tetap saja ngarang orang tua jatuh (jelas-jelas sehat pada saat itu) dan dilegitimasi oleh moment April Mop tidak dapat dibenarkan. Apalagi buat saya yang saat itu bersekolah di pulau seberang, jauh dari saudara dan keluarga. Setelah ngomel-ngomel akhirnya si adik yang baru 'ngeh' dan baru belajar iseng di saat April Mop ini pun minta maaf.


Setelah ditelisik lebih jauh ternyata 1 April dikenal juga dengan istilah April Fool’s Day. Pada 1 April setiap orang diperbolehkan untuk berbohong atau membuat lelocon konyol tanpa rasa bersalah atau tidak boleh disalahkan. Hari ini ditandai dengan bercanda, tipu menipu kepada keluarga, teman, sahabat, musuh, siapapun.

Namun, menurut sebuah situs surat kabar di sini, para sejarawan mengklaim bahwa April Mop sebenarnya adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Spanyol yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol menjadi negeri yang makmur. Islam saat itu berkembang hingga Prancis Selatan. Beberapa kota seperti Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, penduduknya dengan sukarela memeluk agama Islam.

Hal ini jelas merisaukan beberapa negara tetangga di Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Mereka mengirimkan alkohol ke wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Alquran. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil. Akhirnya Spanyolpun  jatuh dan bisa dikuasai oleh pasukan yang dikirim oleh Kerajaan Spanyol yang tersingkir.  Penyerangan yang dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).

Wallahualam bishawab ya, yang penting pagi ini tepat pada saat April Mop, saya berdesak-desakan di kereta Commuter Line diwarnai teriakan histeris ibu-ibu di gerbong kereta wanita yang tergencet-gencet (including me for sure) dan endingnya telat 38 menit saja pas ngabsen di kantor, huaaaa (nangis bayangin potongan gaji).